( l a n j u t a n #4 )
March 4th, 2007 by did-did
(cinta mana lagi)
Didid;
Karena sang waktupun tak akan sanggup menghapus ingatan
Pelan2 kulihat dirimu membias di udara.
Kutemukan sebagian dirimu berkhianat pada kenyataan.
Tak ada lagi keheningan, menguap begitu saja.
Sebagian yang lain, yang tersesat,
semakin tak inginku tinggal bersamanya.
Karena sang waktupun tak akan sanggup menghapus ingatan
Semoga kematian segera datang.
Vira;
Kring……kring……
“Pagi say”
“Iya, da pa mas pagi2 gini dah telp”
“Kangen”
“Sepagi ini? Hehehe…”
“Ya iyalah. Kan udah sebulan lebih ga ketemu”
”Iya – iya. “
“Apa rencana hari ini say?”
“Ini td udah siap2 brngkat kerja. Huhhh… kayakna hari ini kerjaanku byk. Kemaren ja ampe jam 6 sore. Itu aja blon kelar. Rencananya sih, hari ini aku selesaiin semuanya. Kamu hari ini rencananya ngapain?”
“Cuman Satu”
“apa?”
“Mikirin kamu”
“hehehe…makasih ya, udah ya, aku keburu telat. Ntar jam makan siang aku telp kmu”
“ok say, ati2 ya.luv u”
“Luv u too”
Nama aku Vira Angga Yasti. Temen2 panggil aku vivi. Ato vi aja. tp anak laki2 sering panggil aku vivit. Awalnya aku suka ja, keliatan lucu,cute. Tp akhirnya aku tau kalo itu nama produk bokep. Aku marah2, mereka malah ketawa cengengesan. Aku nunjukin muka ngambek mereka malah teriak2 manggil vivit ke aku. Aku diem, ga nyapa mereka,walah,,,, mereka malah menjadi2.malah aneh2. Ada yg sengaja mengirimi aku berbagai produk vivit. Ada yg ngasi testi di freindser komen aneh2, ada yg diem2 nyebar terror, ngirim sms berantai,isinya gosip2 tt aku. Ada yg nulis gede2 dipapan pengumuman kantor.
“Vivit lagi ngambek, Stop pembajakan vivit.”
Akhirnya, Aku cuek ja.laki2 emg spt itu. Mungkin itu bentuk cinta mereka ke aku. Hehehe…mgkin saja. Laki2 emg selalu aneh. Makluk yg aneh!!!!!!!
Emak kantin kantor
Aku udah cukup bersyukur punya anak satu dari suami yang mengkhianati aku. Meninggalkan aku sewaktu 4 bulan mengandung anaknya. Dulu sebenernya aku sangat mencintai suamiku, aku mengagumi dia. Bahkan cenderung memujanya. Dia lelaki dengan kemauan paling keras untuk mewujudkan mimpinya. Menjadi seorang PNS. Walopun byk test yang telah dilaluinya dan selalu gagal. Kekalahan ini tidak pernah membunuh mimpinya berseragam hijau kecoklatan. Seragam seorg Pegawai Negri.
Mungkin aku juga yang patut dipersalahkan ketika dia lari dari tanggung jawab. Jujur saja, aku belon resmi menikah dengan dia. Aku hamil duluan. Ketika bayi yang aku kandung udah berumur sekitar 3 bualn, aku memilih lebih cerewet dengan kondisi suamiku yang belon bekerja sama sekali. Belon berpenghasilan. Sementara dari hasil warung yg terlalu kecil ini, kubayangkan hal-hal yang terlalu jelek. Kekuatiran akan datangnya bayi. Kekuatiran serba kekurangan. Biaya bersalin. Susu kaleng. Popok.
Dan suamiku memilih mengejar mimpinya ditempat lain. Meninggalkan aku dan jabang bayi diperutku ini.
Betapa waktu cepat berlalu, Kini, anakku berumur 5 tahun. Udah pandai bebicara.
Anakku menjadi satu2nya alasan aku meneruskan hidup ini. mencintai hidup ini.
Betapa tidak, dia memberi aku senyum kecil ketika dia menangis dipangkuan aku. Dia memberi aku semangat pagi hari ketika dia membuka mata bangun tidur dan berlari2 kecil mencari2 aku didapur. dan kini dia pula alasan kenapa aku harus terus saja bekerja dan bekerja, karena dulu, dari mulut kecilnya, dari mulut tanpa dosanya, pernah keluar sebuah kata-kata yg bagi aku seperti jimat semangat luar biasa, aku pernah iseng bertanya sebelum tidur. “Adek, ntar kalo udah gede pengen jadi apa? jadi pak budi yg bawa2 koper itu ato jadi sopir angkot kayak om jamal”
“mak, ali nggak mau kyk pak budi, ngga mau kyk om jamal, ntar ali pengen jadi sopirnya pesawat”
Dalam hatiku terus terngiang2 semangat membara, “jangan kuatir anakku, sayangku, akan kutaburi bumi dengan keringatku untuk mewujudkan mimpimu. Anakku.”
Bos
Seandainya harta melimpah ini bisa aku tukar dengan cinta tulus, aku rela
Didid
Aku melihat matanya dengan nafas sedikit terengah, merasakan apa yang baru saja diceritakannya. Aku ga bergerak sama sekali. diem membisu. Cuman nafasku yang berubah tidak lagi naik turun teratur. Kaget. Kudengar lagi dari mulut mungil itu bercerita “aku sebenernya malu untuk ngomong gini kekamu, tapi maaf, aku ga bisa terus2an untuk berbohong”. sekali lagi aku diem. menikmati petir yang baru saja datang. Pelan-pelan aku mencoba untuk menguasai diri. menarik nafas panjang, mencoba mengusir byk hal yg tiba2 merasuki pikiranku. “sudahlah, kalo itu emg jalan satu2nya” Goblok, kenapa kata2 itu yg harus keluar. Kenapa bukan amarah. Harusnya aku mengeras, harusnya kamu tau diri. “Aku Ikhlas.” Sekali lagi aku mengutuk diriku yang terlalu lembek. terlalu munafik. cuman agar terlihat kuat didepan dia. Seolah2 ga da badai sama sekali.
“aku tau mgkin kamu kece…” cepat2 kutempelkan telunjukku dimulutnya, aku ngga berharap untuk mendengar kata2 lain. Bagiku sudah cukup semuanya. Sudah cukup kusia2kan diriku.
“sori, aku sudah ngerti. Ga perlu kamu lanjutkan lagi.”
“ya sudahlah, terima kasih kamu udah mau ngerti, sori, aku ngga bisa lama2. sudah harus balik kekantor”
Aku pandang dia berlalu,menjauh. Aku pandang sampai dia benar2 hilang dari mata aku. Kulihat dari kejauhan. dia masi sempet menoleh kebelakang. memandang dengan pandangan aneh. Mungkin itu pandangan perpisahan. Cuman aku ngga melihat itu sebagai pandangan perpisahan. Pandangan itu spt sebuah perintah aku harus segera membunuh satu2nya yang aku punya. Hati ini.
Karena sang waktupun tak akan sanggup menghapus ingatan
Semoga kematian segera datang.
Cape deee……
bersambung man……